Mengapa Jurnalisme Butuh Data?

Liputan6.com

Di zaman ini, semua orang bisa bikin berita. Kita bisa lihat, setiap hari video-video viral, video saksi mata, dan lain-lain. Wartawan yang dulunya punya jalur eksklusif ke publik, sekarang harus berbagi panggung dengan siapa saja. Wartawan nggak cukup cuma cepat saja, mereka harus bisa menunjukkna makna secara jelas di balik arus informasi. Sepenggal bacaan dari buku The Data Journalism Handbook menjelaskan secercah materi bahwa dari sinilah data jurnalisme penting.

Pola yang bisa dilihat adalah dulu wartawan fokus mencari info yang langka dan menarik untuk ditampilkan, sekarang tantangan mereka adalah menyaring data-data yang melimpah dari penemuan mereka. Ada salah satu bab dari buku tersebut, “Why Journalists Should Use Data”, Mirko Lorenz secara nggak langsung memberi tau, data menggeser peran jurnalis dari orang yang pertama kali melapor jadi orang yang menjelaskan arti peristiwa. Ini bukan sekadar teknik, tapi perubahan identitas profesi. Kita hidup di dunia yang serba terhubung; harga kopi, kebijakan pemerintah, krisis ekonomi global, bahkan makan gratis (yang katanya bergizi), semua meninggalkan jejak data. Jadi pelajaran yang bisa didapat bukan cuma wartawan harus bisa Excel, wartawan harus bisa nulis, tapi bahwa kemampuan mengolah data adalah cara untuk mengembalikan otoritas dan relevansi jurnalisme di era digital.

Kalau ditarik ke belakang, sebenarnya sejarahnya sudah lama. Dari computer-assisted reporting tahun 1950-an, precision journalism di tahun 1970-an, sampai Guardian tahun 1821 yang sudah memuat tabel sekolah, bahkan Florence Nightingale yang pakai grafik coxcomb untuk dorong reformasi kesehatan tentara. Bedanya sekarang, volume datanya jauh lebih besar, alatnya makin mudah diakses, dan ada budaya hyperlink serta crowdsourcing. Semua ini bikin kemampuan baca data jadi keterampilan inti, bukan pelengkap.

Fenomena yang terasa saat ini adalah banjir informasi. Dulu wartawan mungkin kehabisan sumber, sekarang malah kebanjiran angka, laporan, statistik, dan dokumen digital. Pada bab “Why Is Data Journalism Important?” menekankan bahwa wartawan harus bekerja di dua level: menganalisis arus data untuk menemukan pola dan menyajikan yang penting supaya pembaca mengerti. Kayak sains, data journalism perlu transparansi: metode jelas, data dibuka, orang lain bisa menguji ulang. Ini bukan hal kecil, tapi jalan untuk membangun kepercayaan di tengah publik yang makin skeptis.

Contoh yang paling menarik adalah kisah Steve Doig. Dia menggabungkan data kecepatan angin dengan peta kerusakan bangunan pasca badai Andrew dan menemukan bahwa banyak kerusakan bukan semata-mata karena alam, tapi karena lemahnya kode bangunan. Dari situ lahirlah liputan Pulitzer. Ini bukti konkret kekuatan data journalism: bisa menemukan pola dan bukti yang sebelumnya tersembunyi, bukan sekadar “angka” di kertas. Kisah ini nunjukin data bukan cuma alat, tapi bahasa baru yang memungkinkan wartawan mengungkap sesuatu yang penting untuk publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *